Periodesasi Perpustakaan Islam
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi
Maha Penyayang, kami panjatkan puja syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “Periodesasi
Perpustakaan Islam”.
Kami mengucapkan
terima kasih kepada Ibu selaku pembimbing mata kuliah Sejarah Perpustakaan Islam yang telah memberikan bimbingan dan semua pihak
yang telah membantu, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah ini dengan sebaik-baiknya dalam rangka memenuhi sebagian persyaratan untuk memperoleh nilai
tugas kelompok pada pembelajaran ini.
Terlepas
dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak kekurangan baik
dari segi sususan kalimat, tata bahasa, maupun dalam pemateri yang kami
buat. Oleh karena itu kami
sangat membutuhkan saran dan kritik dari kawan-kawan agar dapat membantu
memperbaiki makalah ini. Dan kami berharap semoga makalah ini bermanfaat dan
memberi tambahan ilmu bagi kawan-kawan dan kami khususnya.
|
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR......................................................................................................... i
DAFTAR ISI....................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang......................................................................................................... 1
B. Rumusan
Masalah...................................................................................................
2
C. Tujuan
Penulisan.....................................................................................................
2
BAB II LANDASAN TEORI
A. Masa Perintisan........................................................................................................ 3
B. Masa Perkembangan................................................................................................ 4
C. Masa Kejayaan......................................................................................................... 6
D. Masa Kemunduran................................................................................................... 6
BABA III PENUTUP
A. Kesimpulan............................................................................................................ 10
Dastar Pustaka................................................................................................................... 11
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Perpustakaan
adalah sebuah ruangan dari bagian sebuah gedung atau pun gedung itu sendiri
yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasanya disimpan
menurut tata susunan tertentu untuk digunakan pembaca dan bukan untuk dijual.[1]
Perpustakaan tidak hanya didirikan oleh sebuah lembaga, namun perpustakaan bisa
dibangun oleh perseorangan yang biasa disebut perpustakaan pribadi.
Perpustakaan tersebut bisa berisi buku ataupun non-buku yang disusun secara
abjad dan sistematis juga. Perpustakaan pribadi tersebut bisa saja hanya
digunakan oleh dirinya sendiri dan keluarganya, ataupun bisa juga digunakan
oleh khalayak ramai, namum dengan ketentuan-ketentuan yang dibuat oleh pemilik
perpustakaan.
Perpustakaan
tidak akan pernah bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, karena
perpustakaan sendiri merupakan pusat berkumpulnya semua ilmu dan informasi.
Perpustakaan yang terus berkembang mencerminkan kualitas hidup suatu kelompok
masyarakat. Dalam sejarah Islam, Nabi Muhammad saw sangat menganjurkan umatnya
untuk membaca dan menulis, dan Beliau sendiri sering memerintahkan kepada suatu
kelompok mukmin untuk mencatat sebagai salah satu bagian dari administrasi.
Perpustakaan
adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak dan/atau karya
rekam, secara professional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan
pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi bagi pemustaka.
Perpustakaan diselenggarakan berdasarkan atas pembelajaran sepanjang hayat,
demokrasi keadilan, keprofesionalan, keterbukaan, keterukuran, dan kemitraan.
Perpustakaan berfungsi sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian,
informasi, dan rekreasi untuk meningkatkan kecersadan dan keberdayaan bangsa.
Perpustakaan bertujuan untuk memberikan layanan kepada pemustaka, meningkatkan
kegemaran membaca, dan memperluas wawasan dan pengetahuan untuk mencerdaskan
kehidupan bangsa.[2]
Dengan demikian, perpustakaan adalah suatu wadah (tempat) yang mencakup segala
opsek dalam kehidupan. Tidak hanya sebagai pusat dalam bidang ilmu pengetahuan
namun sampai kepada pusat rekreasi, tergantung kepada diri mereka yang
manganggap perpustakaan itu apa.
B.
Rumusan Masalah
Dalam makalah ini, kami akan mencoba untuk memaparkan bagaimana periodesasi perpustakaan islam itu?
C.
Tujuan Penulisan
Untuk
mengetahui bagaimana periodesasi perpustakaan islam selama ini.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Masa Perintisan
Praktik
kepustakawanan yang berupa tradisi penulisan dan pelestarian informasi dalam
suatu media tertentu sebenarnya telah berkembang sejak kelahiran Islam, yaitu
berupa penulisan wahyu Al-Qur’an, dan pelestariannya dalam media penyimpanan
informasi seperti kulit binatang, batu, daun dan lain-lain.[3]
Sebagaimana yang kita ketahui, pada masa lalu orang-orang menulis bukan
menggunakan kertas sebagaimana yang kita gunakan saat ini, mereka menggunakan
batu, kulit-kulit pohon, kulit-kulit binatang, dan sebagainya sebagai media
tulis mereka. Namun, dari situlah awal dari seseorang bisa belajar menulis dan
membaca.
Berkenaan
dengan sejarah awal berdirinya perpustakaan, terdapat tiga pendapat yang
berkembang dikalangan para ahli sejarah.
1.
Pendapat M.M. Azami
Menurut
Azami (2000), sejarah berdirinya perpustakaan di dunia Islam terjadi pada
dekade keenam abad pertama Hijriah. Abd al-Hakam bin Amr bin Abdullah bin
Sufwan al-Jumahi mendirikan perpustakan umum yang berisi berbagai koleksi buku,
serta dilengkapi ruangan untuk bermain. Di dinding dipasang gantungan baju
sehingga orang yang masuk dapat menggantungkan bajunya di situ, lalu membaca
atau bermain. Disamping itu terdapat juga perpustakaan khusus untuk membaca
Al-Qur’an yang didirikan oleh Abd al-Rahman bin Abu Laila. Pada perpustakaan
tersebut terdapat mushaf-mushaf dimana para qura’
berkumpul untuk membaca Al-Qur’an.
2.
Pendapat
Mackensen
Menurut
Mackensen perpustakaan yang pertama adalah perpustakaan al-Zuhri. Al-Zuhri atau
nama yang sebenarnya adalah Abu Bakr Muhammad bin Muslim bin Abdullah Ibn
Syihab al-Zuhri (w. 123 H), ia tinggal di sebuah desa antara Hijaz dan Syam
yang bernama desa Ailah. Beberapa catatan sejarah menyebutkan bawah Ibn Syihab
al-Zuhri adalah orang pertama yang menulis hadis, yaitu atas perintah dari
Khalifah Umar Bin Abdul Aziz (akhir abad pertama hijriah). Al-Zuhri memang
termasuk seseorang yang gemar menulis dan menghimpun hadis-hadis Nabi. Selain
itu, ia juga dikenal sebagai seorang yang alim dan ahli fikih, sehingga banyak
orang yang ingin belajar darinya.
3.
Pendapat Ahli Sejarah
Pendapat
ini dikemukakan oleh Pedersen (1996), Quraishi (1970), dan Ibn Nadim (1970)
yang menyebutkan bahwa awal berdirinya perpustakaan di dunia Islam adalah
perpustakaan yang didirikan oleh Khalid Ibn Yazid. Menurut Ali Audah (1999),
perpustakaan ini merupakan perpustakaan Islam pertama yang memiliki koleksi
yang besar dan teratur.
Latar
belakang pendirian perpustakaan tersebut disebutkan Perseden karena ia kecewa
tidak mendapatkan kekhalifahan. Oleh karena itu, untuk menghibur diri ia
mendirikan perpustakaan. Keterangan yang sama diberikan oleh Mansoor A.
Quraishi, bahwa sejarah perpustakaan telah ada semenjak masa Bani Umayyah yang
didirikan oleh Khalid Ibn Yazid. Al-Nadim menyebutkan bahwa Khalid Ibn Yazid
Ibn Muawiyyah adalah seorang yang baik dan bijaksana, dan ia sering disebut
sebagai the Wise Man of the Family Marwan,
lelaki bijaksana dari keluarga Marwan.[4]
Dari beberapa uraian tersebut, perpustakaan yang pertama kali didirikan adalah
pada masa Khalid Ibn Yazid, sebagaimana yang tulis para sejarawan.
B. Masa Perkembangan
Secara
garis besar perkembangan perpustakaan dapat dibedakan dua sudut pandang, yaitu
fisik dan non-fisik. Pertama, perkembangan fisik mencakup infastruktur seperti
gedung beserta kelengkapannya, sarana prasarana, perabot dan perlengkapan,
aplikasi teknologi informasi, sarana komunikasi dan koleksi. Pengembangan fisik
tersebut dapat langsung terlihat dengan kasat mata. Kedua, yang non-fisik,
yaitu mencakup landasan/perangkat hukum, peraturan perundang-undangan. Kedua
faktor tersebut saling mengisi dan melengkapi sehingga tidak dapat dipisahkan
satu sama lainnya dan dilakukan bersamaan secara bertahap.[5]
Perkembangan
perpustakaan di dunia Islam mencapai puncaknya terjadi pada masa kekuasaan Bani
Abbas atau Daulah Abbasiyah. Berbeda dengan masa pemerintahan kekhalifahan Bani
Umayyah, pada masa kekhalifahan Daulah Abbasiyah, tradisi ilmiah dan ilmu
pengetahuan berkembang demikian pesat sehingga mendorong tumbuhnya pusat-pusat
studi ilmu pengetahuan termasuk perpustakaan. Pada masa kebijakan Daulah
Umayyah pemerintahan lebih banyak diorientasikan pada pengembangan (expansi) wilayah kekuasaan dan
pengembangan infrastruktur
kepemerintahan.
Menurut
Yusuf Al-Isy (2007), Bani Umayyah berambisi menjadikan pemerintahannya sebagai
negara adidaya, mereka tidak ingin tersaingi bangsa lain. Oleh karena itu,
mereka berusaha kuat untuk menguasai seluruh negeri dan membangun kekaisaran
yang agung. Berdasarkan keterangan sejarah, pada masa Daulah Umayyah kegiatan
intelektual kurang manjadi perhatian. Hampir sebagian besar masa pemerintahan
Daulah Bani Umayyah dipergunakan untuk memperluas wilayah kekuasaan, sehingga
seluruh potensi yang ada dikerahkan untuk tujuan tersebut. perkembangan ilmu
pengetahuan di masa Umayyah masih sangat
terbatas, baik ragam maupun jumlahnya.mpada umumnya ilmu pengetahuan yang
berkembang adalah ilmu-ilmu agama atau syariah dan terbatas pada tujuan praktis
untuk keperluan pengajaran agama masyarakat terutama terhadap kalangan yang
baru memeluk agama Islam.
Menurut
Ahmad Syalabi (1976), yang dituliskan dalam buku Agus Rifai menjelaskan
pertumbuhan dan perkembangan perpustakaan dalam dunia Islam pada masa Klasik.
Menurut Syalabi, berkembangnya perpustakaan dalam dunia Islam tidak terlepas
dari usaha pengembangan ilmu pengetahuan. Perpustakaan adalah suatu sarana yang
ditempuh umat Islam pada masa lalu untuk menyiarkan ilmu pengetahuan. Hal ini
karena pada masa itu harga buku sangat mahal karena ditulis tangan, dan hanya
orang-orang kaya saja dapat membelinya. Oleh karena itu, salah satu jalan bagi
orang yang ingin memberi pelajaran dan menyiarkan ilmu pengetahuan adalah
dengan mendirikan perpustakaan.[6]
C. Masa Kejayaan
Fase
pertama pada Dinastim Abbasiyah yang dipimpin oleh khalifah abu Jak’far
al-Mansyur Harun al-Rasyid dan Abdullah al-Makmun merupakan khalifah-khalifah
yang cinta pada ilmu pengetahuan, yang dengan kecintaannya khalifah sangat
menjaga dan memelihara buku-buku, baik yang bernuansa agama maupun umum, baik
karya ilmuan muslim ataupun non-muslim, baik ilmuan yang semasa-masanya atau
pendahulunya. Ini terlihat jelas dari sifat para khalifah, seperti pesannya
Harun al-Rasyid kepada para tentaranya untuk tidak merusak kitab apapun yang
ditemukan dalam medan perang. Begitu juga Khalifah al-Makmun, ia mengkaji
penerjemahan dari golongan agama Kristen dan lainnya untuk menerjemahkan
buku-buku Yunani, sampai pada khalifah al-Makmun, Baghdad menjadi pusat
kebudayaan dan ilmu pengetahuan.[7]
Sebelum mencapai masa kejayaan, perpustakaan-perpustakaan Islam banyak
mengalami masa-masa yang berliku. Sampai pada masa kejayaan, sehelai kertas
sangat dihormati oleh masyarakat muslim, karena menurut mereka walaupun sedikit
itu juga merupakan ilmu yang berguna jika dipelajari. Bahkan khalifah Harun
al-Rasyid menyampaikan pesannya kepada para tentara untuk tidak merusak kitab
apapun yang ditemukan dalam medan perang, padahal bisa kita ketahui pada saat
peperangan terjadi pasti akan sulit berkonsentrasi selain kepada para musuh
yang menyerang.
D. Masa Kemunduran
1.
Serangan Tentara Salib
Perang
Salib merupakan peperangan yang terjadi antara orang-orang Kristen dan Umat
Islam. Peperangan ini terjadi pada masa kekuasaan Daulah Abbasiyah ke-2. Perang
Salib ini bermula dari penyerbuan Tentara Romawi, Gergia, dan Prancis yang
dipimpin oleh Raja Armanus (Raja Romawi) ke wilayah Muslim. Pasukan Muslim
berhasil menghalau tentara Romawi dan menahan raja Romawi di Zahwah pada tahun
1069. Kekalahan inilah yang memicu terjadinya perang Salib.
Menurut
al-Sibai (1992) perang Salib telah membawa petaka besar yang membuat
perpustakaan-perpustakaan di dunia Islam seperti di kota Tripoli, Maarah,
al-Quds, Ghazzah, Asqalan, dan kota-kota lainnya menjdai hancur. Meskipun
demikian, tidak semua koleksi-koleksi perpustakaan di wiliyah Muslim tersebut
dihancurkan. Sebagian besar koleksi perpustakaan-perpustakaan Islam justru
dibawa ke Eropa. Mereka secara diam-diam melakukan penerjemahan buku-buku karya
ilmuan Muslim ke dalam bahasa Latin. Haidar Bammate (2000) menuliskan perang
Salib (crusade) merupakan titik awal
perubahan atau pertukaran kebudayaan antara Timur dan Barat. Persentuhan Barat
dengan Islam ini tidak hanya telah lahirkan universitas-universitas dan
pusat-pusat kajian ilmu pengetahuan di dunia Barat, akan tetapi juga banyak
karya-karya para ilmuan Muslim yang menjadi rujukan dalam pendidikan dan
penelitian.
2.
Invansi Pasukan Tartar Terhadap
Negeri-negeri Islam
Selain
perang Salib, penyebab kehancuran perpustakaan-perpustakaan di dunia Islam
adlah akibat invansi bangsa Mongol atau
pasukan Tartar ke wilaya-wilayah Islam. Tartar adalah komunitas suku yang
tinggal di Asia Tengah, sedangkan Mongol merupakan bagian dari bangsa Tartar.
Bangsa
Mongol memasuki negeri-negeri Muslim melalui Bukhara. Di bawah kepemimpinan
Jenghis Khan, pasukan Tartar berhasil menaklukkan Bukhara yang kemudian
dilanjutkan ke kota Samarkand. Setelah ditaklukkan, Samarkand kemudian menjadi
pusat penyerangan ke negeri-negeri Muslim lainnya seperti Khurasan, Ray,
Azebeijan, Qazwin, Tibriz sampai ke Irak. Dalam penyerangan ke negeri-negeri
Muslim tersebut, pasukan Tartar melakukan pembunuhan secara besar-besaran
terhadap orang-orang yang ditemuinya, baik wanita maupun anak-anak. Mereka juga
melakukan perampasan dan pembakaran terhadap rumah-rumah dan bangunan-bangunan
lainnya.
Setelah
Jenghis Khan meninggal pada tahun 1227 M/624 H, kegiatan invansi ke
negeri-negeri Muslim dilakukan oleh keturunannya yang lain. satu diantara yang
paling terkenal adalah Hulago Khan. Menurut Ibn Atsir, Hulago Khan dikenal
sebagai pemimpin bangsa Tartar yang paling dictator, sadis, dan tidak bermoral.
Ia telah membantai kaum Muslimin di Timur dan Barat dalam jumlah yang sangat
besar.
Selain
di Baghdad, penyerangan pasukan Tartar juga telah menghancurkan
perpustakaan-perpustakaan diberbagai kota. Menurut Nakosteen (1996), serbuan
bangsa Mongol dan Tartar ke wilayah Islam telah menghancurkan semua
perpustakaan seperti di kota Baghdad pada tahun 1258, kota Samarqand, dan
Bukhara.
3.
Konflik Internal di Kalangan Umat Muslim
Kehancuran
perpustakaan di Dunia Islam juga diakibatkan oleh perusakan dan penghanncuran
sebagai akibat dari berbagai ketegangan yang terjadi di kalangan masyarakat
Islam sendiri. Seperti diketahui bahwa setelah meninggalnya khalifah Al-Makmun
pada tahun 218 H. Ketegangan internal umat Islam ini dapat diakibatkan karena
kepentingan politik.
Tentara
Turki yang menyerang khalifah Fatimiyah di Kairo telah menghancurkan
perpustakaan al-Hakim dengan membuang buku-bukunya ke sungai Nil, merobek-robek
dan membakar isi buku. Menurut Nakosteen (1996), sebelum dihancurkan buku-buku
tersebut dirobek dan diambil kulit sampulnya untuk dijadikan sepatu oleh
tentara turki, kemudian manuskrip-manuskrip dikumpulkan dan ditumpuk hingga
menyerupai gundukan gunung yang dikenal sebagai “Hill of the Books” yang berada di dekat kota Abyar sebelum akhirnya
dibakar.
Pertengkaran
antar aliran di dalam umat Islam juga telah menyebabkan kehancuran
perpustakaan. Di Haleb (Alepo) terdapat sebuah perpustakaan besar yang disebut
“Khazanah Sufisme”. Ketika terjadi
bentrokan karena fitnah antara Sunnah dan Syi’ah pada hari-hari Asyura,
perpustakaan tersebut dirampas dan isinya tinggal sedikit (Al-Siba’I, 1992).
4.
Persoalan Pribadi atau Keluarga
Persoalan
pribadi atau keluarga juga menjadi faktor kemunduran perpustakaan di dunia
Islam, terutama pada perpustakaan khusus (pribadi). Di kalangan umat Islam memang
banyak terdapat orang-orang yang sangat gemar membaca buku. Mereka mencintai
buku melebihi dari diri dan keluarganya sehingga banyak istri-istri yang merasa
diabaikan dan merasa cemburu. Istri al-Zuhri pernah cemburu pada buku karena
suaminya sangat asyik membaca buku-buku di perpustakaannya. Ia berkata kepada
suaminya (al-Zuhri): “ Demi Allah, buku-buku itu lebih berat atas diriku
daripada tiga orang madu”.
Amir
bin fatik, salah satu penguasa di Mesir abad ke-5 Hijriah memiliki sebuah
perpustakaan besar, sebagian besar waktunya ia habiskan untuk membaca di
perpustakaannya. Karena merasa sering diabaikan oleh suaminya, setelah Amir bin
Fatik wafat, istrinya menangisi dan meratapi kematiannya sambil melemparkan
buku-buku yang ada di perpustakaan ke dalam kolam besar yang berada di
tengah-tengah rumahnya.[8]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Pada
awal masa kejayaannya, Islam mempunyai pusat lembaga pendidikan yang sangat
besar yang menunjukkan kemajuan yang sangat pesat pada masa itu. Perpustakaan
yang pernah dibangun membuahkan cendiakiawan dan ilmuan yang menyumbangkan
hasil buah pemikirannya kepada umat manusia sampai sekarang. Perkembangann ilmu
dan informasi sangatlah pesat pada saat itu, sehingga perpustakaan tidak hanya
sebagai tempat penyimpanan buku-buku.
Praktik
kepustakawanan yang berupa tradisi penulisan dan pelestarian informasi dalam
suatu media tertentu sebenarnya telah berkembang sejak kelahiran Islam, yaitu
berupa penulisan wahyu Al-Qur’an, dan pelestariannya dalam media penyimpanan
informasi seperti kulit binatang, batu, daun dan lain-lain. Berkenaan dengan
sejarah awal berdirinya perpustakaan, terdapat tiga pendapat yang berkembang
dikalangan para ahli sejarah. Yaitu pendapat menurut M.M. Azami, Mackensen, dan
pendapat ahli sejarah.
Perkembangan
perpustakaan di dunia Islam mencapai puncaknya terjadi pada masa kekuasaan Bani
Abbas atau Daulah Abbasiyah. Fase pertama pada Dinastim Abbasiyah yang dipimpin
oleh khalifah abu Jak’far al-Mansyur Harun al-Rasyid dan Abdullah al-Makmun
merupakan khalifah-khalifah yang cinta pada ilmu pengetahuan, yang dengan
kecintaannya khalifah sangat menjaga dan memelihara buku-buku, baik yang
bernuansa agama maupun umum, baik karya ilmuan muslim ataupun non-muslim, baik
ilmuan yang semasa-masanya atau pendahulunya. Pada masa kemunduran perpustakaan
islam, ada beberapa hal yang menjadi latar belakang terjadinya kemunduran
perpustakaan islam, yaitu serangan tentara salib, invansi pasukan tartar
terhadap negeri-negeri Islam, konflik internal di kalangan umat muslim, persoalan
pribadi atau keluarga.
Komentar
Posting Komentar