Periodesasi Perpustakaan Islam


KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kami panjatkan puja syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “Periodesasi Perpustakaan Islam”.
Kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu selaku pembimbing mata kuliah Sejarah Perpustakaan Islam yang telah memberikan bimbingan dan semua pihak yang telah membantu, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan sebaik-baiknya dalam rangka memenuhi sebagian persyaratan untuk memperoleh nilai tugas kelompok pada pembelajaran ini.
Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak kekurangan baik dari segi sususan kalimat, tata bahasa, maupun dalam pemateri yang kami buat.  Oleh karena itu kami sangat membutuhkan saran dan kritik dari kawan-kawan agar dapat membantu memperbaiki makalah ini. Dan kami berharap semoga makalah ini bermanfaat dan memberi tambahan ilmu bagi kawan-kawan dan kami khususnya.





Banda Aceh, 20 Oktober 2017




Kelompok I
 
 







DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................................... i
DAFTAR ISI....................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang......................................................................................................... 1
B.     Rumusan Masalah................................................................................................... 2
C.     Tujuan Penulisan..................................................................................................... 2
BAB II LANDASAN TEORI
A.    Masa Perintisan........................................................................................................ 3
B.     Masa Perkembangan................................................................................................ 4
C.     Masa Kejayaan......................................................................................................... 6
D.    Masa Kemunduran................................................................................................... 6
BABA III PENUTUP
A.    Kesimpulan............................................................................................................ 10
Dastar Pustaka................................................................................................................... 11



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Perpustakaan adalah sebuah ruangan dari bagian sebuah gedung atau pun gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu untuk digunakan pembaca dan bukan untuk dijual.[1] Perpustakaan tidak hanya didirikan oleh sebuah lembaga, namun perpustakaan bisa dibangun oleh perseorangan yang biasa disebut perpustakaan pribadi. Perpustakaan tersebut bisa berisi buku ataupun non-buku yang disusun secara abjad dan sistematis juga. Perpustakaan pribadi tersebut bisa saja hanya digunakan oleh dirinya sendiri dan keluarganya, ataupun bisa juga digunakan oleh khalayak ramai, namum dengan ketentuan-ketentuan yang dibuat oleh pemilik perpustakaan.
Perpustakaan tidak akan pernah bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, karena perpustakaan sendiri merupakan pusat berkumpulnya semua ilmu dan informasi. Perpustakaan yang terus berkembang mencerminkan kualitas hidup suatu kelompok masyarakat. Dalam sejarah Islam, Nabi Muhammad saw sangat menganjurkan umatnya untuk membaca dan menulis, dan Beliau sendiri sering memerintahkan kepada suatu kelompok mukmin untuk mencatat sebagai salah satu bagian dari administrasi.
Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak dan/atau karya rekam, secara professional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi bagi pemustaka. Perpustakaan diselenggarakan berdasarkan atas pembelajaran sepanjang hayat, demokrasi keadilan, keprofesionalan, keterbukaan, keterukuran, dan kemitraan. Perpustakaan berfungsi sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi untuk meningkatkan kecersadan dan keberdayaan bangsa. Perpustakaan bertujuan untuk memberikan layanan kepada pemustaka, meningkatkan kegemaran membaca, dan memperluas wawasan dan pengetahuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.[2] Dengan demikian, perpustakaan adalah suatu wadah (tempat) yang mencakup segala opsek dalam kehidupan. Tidak hanya sebagai pusat dalam bidang ilmu pengetahuan namun sampai kepada pusat rekreasi, tergantung kepada diri mereka yang manganggap perpustakaan itu apa.

B.     Rumusan Masalah
Dalam makalah ini, kami akan mencoba untuk memaparkan bagaimana periodesasi perpustakaan islam itu?

C.     Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui bagaimana periodesasi perpustakaan islam selama ini.


BAB II
LANDASAN TEORI

A.    Masa Perintisan
Praktik kepustakawanan yang berupa tradisi penulisan dan pelestarian informasi dalam suatu media tertentu sebenarnya telah berkembang sejak kelahiran Islam, yaitu berupa penulisan wahyu Al-Qur’an, dan pelestariannya dalam media penyimpanan informasi seperti kulit binatang, batu, daun dan lain-lain.[3] Sebagaimana yang kita ketahui, pada masa lalu orang-orang menulis bukan menggunakan kertas sebagaimana yang kita gunakan saat ini, mereka menggunakan batu, kulit-kulit pohon, kulit-kulit binatang, dan sebagainya sebagai media tulis mereka. Namun, dari situlah awal dari seseorang bisa belajar menulis dan membaca.
Berkenaan dengan sejarah awal berdirinya perpustakaan, terdapat tiga pendapat yang berkembang dikalangan para ahli sejarah.
1.      Pendapat M.M. Azami
Menurut Azami (2000), sejarah berdirinya perpustakaan di dunia Islam terjadi pada dekade keenam abad pertama Hijriah. Abd al-Hakam bin Amr bin Abdullah bin Sufwan al-Jumahi mendirikan perpustakan umum yang berisi berbagai koleksi buku, serta dilengkapi ruangan untuk bermain. Di dinding dipasang gantungan baju sehingga orang yang masuk dapat menggantungkan bajunya di situ, lalu membaca atau bermain. Disamping itu terdapat juga perpustakaan khusus untuk membaca Al-Qur’an yang didirikan oleh Abd al-Rahman bin Abu Laila. Pada perpustakaan tersebut terdapat mushaf-mushaf dimana para qura’ berkumpul untuk membaca Al-Qur’an.
2.       Pendapat Mackensen
Menurut Mackensen perpustakaan yang pertama adalah perpustakaan al-Zuhri. Al-Zuhri atau nama yang sebenarnya adalah Abu Bakr Muhammad bin Muslim bin Abdullah Ibn Syihab al-Zuhri (w. 123 H), ia tinggal di sebuah desa antara Hijaz dan Syam yang bernama desa Ailah. Beberapa catatan sejarah menyebutkan bawah Ibn Syihab al-Zuhri adalah orang pertama yang menulis hadis, yaitu atas perintah dari Khalifah Umar Bin Abdul Aziz (akhir abad pertama hijriah). Al-Zuhri memang termasuk seseorang yang gemar menulis dan menghimpun hadis-hadis Nabi. Selain itu, ia juga dikenal sebagai seorang yang alim dan ahli fikih, sehingga banyak orang yang ingin belajar darinya.
3.      Pendapat Ahli Sejarah
Pendapat ini dikemukakan oleh Pedersen (1996), Quraishi (1970), dan Ibn Nadim (1970) yang menyebutkan bahwa awal berdirinya perpustakaan di dunia Islam adalah perpustakaan yang didirikan oleh Khalid Ibn Yazid. Menurut Ali Audah (1999), perpustakaan ini merupakan perpustakaan Islam pertama yang memiliki koleksi yang besar dan teratur.
Latar belakang pendirian perpustakaan tersebut disebutkan Perseden karena ia kecewa tidak mendapatkan kekhalifahan. Oleh karena itu, untuk menghibur diri ia mendirikan perpustakaan. Keterangan yang sama diberikan oleh Mansoor A. Quraishi, bahwa sejarah perpustakaan telah ada semenjak masa Bani Umayyah yang didirikan oleh Khalid Ibn Yazid. Al-Nadim menyebutkan bahwa Khalid Ibn Yazid Ibn Muawiyyah adalah seorang yang baik dan bijaksana, dan ia sering disebut sebagai the Wise Man of the Family Marwan, lelaki bijaksana dari keluarga Marwan.[4] Dari beberapa uraian tersebut, perpustakaan yang pertama kali didirikan adalah pada masa Khalid Ibn Yazid, sebagaimana yang tulis para sejarawan. 

B.     Masa Perkembangan
Secara garis besar perkembangan perpustakaan dapat dibedakan dua sudut pandang, yaitu fisik dan non-fisik. Pertama, perkembangan fisik mencakup infastruktur seperti gedung beserta kelengkapannya, sarana prasarana, perabot dan perlengkapan, aplikasi teknologi informasi, sarana komunikasi dan koleksi. Pengembangan fisik tersebut dapat langsung terlihat dengan kasat mata. Kedua, yang non-fisik, yaitu mencakup landasan/perangkat hukum, peraturan perundang-undangan. Kedua faktor tersebut saling mengisi dan melengkapi sehingga tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya dan dilakukan bersamaan secara bertahap.[5]
Perkembangan perpustakaan di dunia Islam mencapai puncaknya terjadi pada masa kekuasaan Bani Abbas atau Daulah Abbasiyah. Berbeda dengan masa pemerintahan kekhalifahan Bani Umayyah, pada masa kekhalifahan Daulah Abbasiyah, tradisi ilmiah dan ilmu pengetahuan berkembang demikian pesat sehingga mendorong tumbuhnya pusat-pusat studi ilmu pengetahuan termasuk perpustakaan. Pada masa kebijakan Daulah Umayyah pemerintahan lebih banyak diorientasikan pada pengembangan (expansi) wilayah kekuasaan dan pengembangan infrastruktur  kepemerintahan.
Menurut Yusuf Al-Isy (2007), Bani Umayyah berambisi menjadikan pemerintahannya sebagai negara adidaya, mereka tidak ingin tersaingi bangsa lain. Oleh karena itu, mereka berusaha kuat untuk menguasai seluruh negeri dan membangun kekaisaran yang agung. Berdasarkan keterangan sejarah, pada masa Daulah Umayyah kegiatan intelektual kurang manjadi perhatian. Hampir sebagian besar masa pemerintahan Daulah Bani Umayyah dipergunakan untuk memperluas wilayah kekuasaan, sehingga seluruh potensi yang ada dikerahkan untuk tujuan tersebut. perkembangan ilmu pengetahuan  di masa Umayyah masih sangat terbatas, baik ragam maupun jumlahnya.mpada umumnya ilmu pengetahuan yang berkembang adalah ilmu-ilmu agama atau syariah dan terbatas pada tujuan praktis untuk keperluan pengajaran agama masyarakat terutama terhadap kalangan yang baru memeluk agama Islam.
Menurut Ahmad Syalabi (1976), yang dituliskan dalam buku Agus Rifai menjelaskan pertumbuhan dan perkembangan perpustakaan dalam dunia Islam pada masa Klasik. Menurut Syalabi, berkembangnya perpustakaan dalam dunia Islam tidak terlepas dari usaha pengembangan ilmu pengetahuan. Perpustakaan adalah suatu sarana yang ditempuh umat Islam pada masa lalu untuk menyiarkan ilmu pengetahuan. Hal ini karena pada masa itu harga buku sangat mahal karena ditulis tangan, dan hanya orang-orang kaya saja dapat membelinya. Oleh karena itu, salah satu jalan bagi orang yang ingin memberi pelajaran dan menyiarkan ilmu pengetahuan adalah dengan mendirikan perpustakaan.[6]

C.    Masa Kejayaan
Fase pertama pada Dinastim Abbasiyah yang dipimpin oleh khalifah abu Jak’far al-Mansyur Harun al-Rasyid dan Abdullah al-Makmun merupakan khalifah-khalifah yang cinta pada ilmu pengetahuan, yang dengan kecintaannya khalifah sangat menjaga dan memelihara buku-buku, baik yang bernuansa agama maupun umum, baik karya ilmuan muslim ataupun non-muslim, baik ilmuan yang semasa-masanya atau pendahulunya. Ini terlihat jelas dari sifat para khalifah, seperti pesannya Harun al-Rasyid kepada para tentaranya untuk tidak merusak kitab apapun yang ditemukan dalam medan perang. Begitu juga Khalifah al-Makmun, ia mengkaji penerjemahan dari golongan agama Kristen dan lainnya untuk menerjemahkan buku-buku Yunani, sampai pada khalifah al-Makmun, Baghdad menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan.[7] Sebelum mencapai masa kejayaan, perpustakaan-perpustakaan Islam banyak mengalami masa-masa yang berliku. Sampai pada masa kejayaan, sehelai kertas sangat dihormati oleh masyarakat muslim, karena menurut mereka walaupun sedikit itu juga merupakan ilmu yang berguna jika dipelajari. Bahkan khalifah Harun al-Rasyid menyampaikan pesannya kepada para tentara untuk tidak merusak kitab apapun yang ditemukan dalam medan perang, padahal bisa kita ketahui pada saat peperangan terjadi pasti akan sulit berkonsentrasi selain kepada para musuh yang menyerang.

D.    Masa Kemunduran
1.      Serangan Tentara  Salib
Perang Salib merupakan peperangan yang terjadi antara orang-orang Kristen dan Umat Islam. Peperangan ini terjadi pada masa kekuasaan Daulah Abbasiyah ke-2. Perang Salib ini bermula dari penyerbuan Tentara Romawi, Gergia, dan Prancis yang dipimpin oleh Raja Armanus (Raja Romawi) ke wilayah Muslim. Pasukan Muslim berhasil menghalau tentara Romawi dan menahan raja Romawi di Zahwah pada tahun 1069. Kekalahan inilah yang memicu terjadinya perang Salib.
Menurut al-Sibai (1992) perang Salib telah membawa petaka besar yang membuat perpustakaan-perpustakaan di dunia Islam seperti di kota Tripoli, Maarah, al-Quds, Ghazzah, Asqalan, dan kota-kota lainnya menjdai hancur. Meskipun demikian, tidak semua koleksi-koleksi perpustakaan di wiliyah Muslim tersebut dihancurkan. Sebagian besar koleksi perpustakaan-perpustakaan Islam justru dibawa ke Eropa. Mereka secara diam-diam melakukan penerjemahan buku-buku karya ilmuan Muslim ke dalam bahasa Latin. Haidar Bammate (2000) menuliskan perang Salib (crusade) merupakan titik awal perubahan atau pertukaran kebudayaan antara Timur dan Barat. Persentuhan Barat dengan Islam ini tidak hanya telah lahirkan universitas-universitas dan pusat-pusat kajian ilmu pengetahuan di dunia Barat, akan tetapi juga banyak karya-karya para ilmuan Muslim yang menjadi rujukan dalam pendidikan dan penelitian.
2.      Invansi Pasukan Tartar Terhadap Negeri-negeri Islam
Selain perang Salib, penyebab kehancuran perpustakaan-perpustakaan di dunia Islam adlah akibat  invansi bangsa Mongol atau pasukan Tartar ke wilaya-wilayah Islam. Tartar adalah komunitas suku yang tinggal di Asia Tengah, sedangkan Mongol merupakan bagian dari bangsa Tartar.
Bangsa Mongol memasuki negeri-negeri Muslim melalui Bukhara. Di bawah kepemimpinan Jenghis Khan, pasukan Tartar berhasil menaklukkan Bukhara yang kemudian dilanjutkan ke kota Samarkand. Setelah ditaklukkan, Samarkand kemudian menjadi pusat penyerangan ke negeri-negeri Muslim lainnya seperti Khurasan, Ray, Azebeijan, Qazwin, Tibriz sampai ke Irak. Dalam penyerangan ke negeri-negeri Muslim tersebut, pasukan Tartar melakukan pembunuhan secara besar-besaran terhadap orang-orang yang ditemuinya, baik wanita maupun anak-anak. Mereka juga melakukan perampasan dan pembakaran terhadap rumah-rumah dan bangunan-bangunan lainnya.
Setelah Jenghis Khan meninggal pada tahun 1227 M/624 H, kegiatan invansi ke negeri-negeri Muslim dilakukan oleh keturunannya yang lain. satu diantara yang paling terkenal adalah Hulago Khan. Menurut Ibn Atsir, Hulago Khan dikenal sebagai pemimpin bangsa Tartar yang paling dictator, sadis, dan tidak bermoral. Ia telah membantai kaum Muslimin di Timur dan Barat dalam jumlah yang sangat besar.
Selain di Baghdad, penyerangan pasukan Tartar juga telah menghancurkan perpustakaan-perpustakaan diberbagai kota. Menurut Nakosteen (1996), serbuan bangsa Mongol dan Tartar ke wilayah Islam telah menghancurkan semua perpustakaan seperti di kota Baghdad pada tahun 1258, kota Samarqand, dan Bukhara.
3.      Konflik Internal di Kalangan Umat Muslim
Kehancuran perpustakaan di Dunia Islam juga diakibatkan oleh perusakan dan penghanncuran sebagai akibat dari berbagai ketegangan yang terjadi di kalangan masyarakat Islam sendiri. Seperti diketahui bahwa setelah meninggalnya khalifah Al-Makmun pada tahun 218 H. Ketegangan internal umat Islam ini dapat diakibatkan karena kepentingan politik.
Tentara Turki yang menyerang khalifah Fatimiyah di Kairo telah menghancurkan perpustakaan al-Hakim dengan membuang buku-bukunya ke sungai Nil, merobek-robek dan membakar isi buku. Menurut Nakosteen (1996), sebelum dihancurkan buku-buku tersebut dirobek dan diambil kulit sampulnya untuk dijadikan sepatu oleh tentara turki, kemudian manuskrip-manuskrip dikumpulkan dan ditumpuk hingga menyerupai gundukan gunung yang dikenal sebagai “Hill of the Books” yang berada di dekat kota Abyar sebelum akhirnya dibakar.
Pertengkaran antar aliran di dalam umat Islam juga telah menyebabkan kehancuran perpustakaan. Di Haleb (Alepo) terdapat sebuah perpustakaan besar yang disebut “Khazanah Sufisme”. Ketika terjadi bentrokan karena fitnah antara Sunnah dan Syi’ah pada hari-hari Asyura, perpustakaan tersebut dirampas dan isinya tinggal sedikit (Al-Siba’I, 1992).
4.      Persoalan Pribadi atau Keluarga
Persoalan pribadi atau keluarga juga menjadi faktor kemunduran perpustakaan di dunia Islam, terutama pada perpustakaan khusus (pribadi). Di kalangan umat Islam memang banyak terdapat orang-orang yang sangat gemar membaca buku. Mereka mencintai buku melebihi dari diri dan keluarganya sehingga banyak istri-istri yang merasa diabaikan dan merasa cemburu. Istri al-Zuhri pernah cemburu pada buku karena suaminya sangat asyik membaca buku-buku di perpustakaannya. Ia berkata kepada suaminya (al-Zuhri): “ Demi Allah, buku-buku itu lebih berat atas diriku daripada tiga orang madu”.
Amir bin fatik, salah satu penguasa di Mesir abad ke-5 Hijriah memiliki sebuah perpustakaan besar, sebagian besar waktunya ia habiskan untuk membaca di perpustakaannya. Karena merasa sering diabaikan oleh suaminya, setelah Amir bin Fatik wafat, istrinya menangisi dan meratapi kematiannya sambil melemparkan buku-buku yang ada di perpustakaan ke dalam kolam besar yang berada di tengah-tengah rumahnya.[8]


BAB III
PENUTUP 
Kesimpulan
Pada awal masa kejayaannya, Islam mempunyai pusat lembaga pendidikan yang sangat besar yang menunjukkan kemajuan yang sangat pesat pada masa itu. Perpustakaan yang pernah dibangun membuahkan cendiakiawan dan ilmuan yang menyumbangkan hasil buah pemikirannya kepada umat manusia sampai sekarang. Perkembangann ilmu dan informasi sangatlah pesat pada saat itu, sehingga perpustakaan tidak hanya sebagai tempat penyimpanan buku-buku.
Praktik kepustakawanan yang berupa tradisi penulisan dan pelestarian informasi dalam suatu media tertentu sebenarnya telah berkembang sejak kelahiran Islam, yaitu berupa penulisan wahyu Al-Qur’an, dan pelestariannya dalam media penyimpanan informasi seperti kulit binatang, batu, daun dan lain-lain. Berkenaan dengan sejarah awal berdirinya perpustakaan, terdapat tiga pendapat yang berkembang dikalangan para ahli sejarah. Yaitu pendapat menurut M.M. Azami, Mackensen, dan pendapat ahli sejarah.
Perkembangan perpustakaan di dunia Islam mencapai puncaknya terjadi pada masa kekuasaan Bani Abbas atau Daulah Abbasiyah. Fase pertama pada Dinastim Abbasiyah yang dipimpin oleh khalifah abu Jak’far al-Mansyur Harun al-Rasyid dan Abdullah al-Makmun merupakan khalifah-khalifah yang cinta pada ilmu pengetahuan, yang dengan kecintaannya khalifah sangat menjaga dan memelihara buku-buku, baik yang bernuansa agama maupun umum, baik karya ilmuan muslim ataupun non-muslim, baik ilmuan yang semasa-masanya atau pendahulunya. Pada masa kemunduran perpustakaan islam, ada beberapa hal yang menjadi latar belakang terjadinya kemunduran perpustakaan islam, yaitu serangan tentara salib, invansi pasukan tartar terhadap negeri-negeri Islam, konflik internal di kalangan umat muslim, persoalan pribadi atau keluarga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa itu Sentralisasi dan Desentralisasi

Knowledge Manajemen

Makalah Ushul Fiqh : Penalaran Ta'lili, Qiyas, dan Istihsan