AKHLAK TERHADAP ALLAH SWT
DAFTAR ISI........................................................................................................................ i
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang......................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah................................................................................................... 1
C. Tujuan Penuisan...................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Akhlak Terhadap Allah............................................................................................ 2
1. Ikhlas................................................................................................................. 2
2. Syukur................................................................................................................ 3
3. Berdoa.............................................................................................................. 4
4. Rasa Malu......................................................................................................... 4
5. Sabar................................................................................................................. 4
BABA III PENUTUP
A. Kesimpulan.............................................................................................................. 6
B. Saran........................................................................................................................ 6
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Akhlak merujuk kepada amalan, dan tingkah laku tulus yang tidak dibuat-buat yang menjadi kebiasaan. Manakala menurut istilah Islam, akhlak ialah sikap keperibadian manusia terhadap Allah, manusia, diri sendiri dan makhluk lain, sesuai dengan suruhan dan larangan serta petunjuk Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW. Ini berarti akhlak merujuk kepada seluruh perlakuan manusia sama ada berbentuk lahiriah mahupun batiniah yang merangkumi aspek amal ibadat, percakapan, perbuatan, pergaulan, komunikasi, kasih sayang dan sebagainya.
Dalam makalah ini yang di bahas adalah akhlak seorang muslim kepada Allah SWT. Yaitu tentang bagaimana seharusnya perilaku seorang muslim tehadap Allah SWT. Sehingga nantinya seorang muslim akan menjadi seorang yang berakhlak mulia khususnya akhlak Kepada Allah SWT.
Dan adapun akhlak kepada Allah yaitu menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Jadi seorang muslim itu hendaknya taat terhadap apa yang diperintahkan oleh Tuhannya. Sehingga akhlak orang muslim kepada Allah yaitu beriman dan taqwa kepada Allah SWT.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian akhlak terhadap Allah?
2. Apa saja bagian dari akhlak terhadap Allah?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui apa pengertian ahklak terhadap Allah.
2. Untuk mengetahui apa saja bagian dari akhlak terhadap Allah.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Akhlak Terhadap Allah
Ahklah menurut bahasa yaitu berasa dari bahasa Arab (اخلاق) jamak dari kata خلق yang berarti tingkah laku, perangai atau tabiat. Sedangkan menurut istilah akhlak adalah daya kekuatan jiwa yang mendorong perbuatan dengan mudah dan spontan tanpa dipikir dan direnungkan lagi. Dengan demikian akhlak pada hakikatnya adalah sikap yang melekat pada diri manusia, sehinggga manusia dapat melakukannya tanpa berfikir (spontan). Akhlak kepada Allah diartikan sebagai segala sikap atau perbuatan manusia yang dilakukan tanpa berfikir lagi dan memang seharusnya ada pada diri manusia (sebagai hamba) kepada Allah SWT (sebagai Khaliq).
Kita sebagai umat Islam memang selayaknya harus berakhlak baik kepada Allah, karena Allahlah yang telah menyempurnakan kita sebagai manusia yang sempurna dibandingkan makhluk ciptaan-Nya yang lain. Untuk itu, akhlak kepada Allah itu harus yang baik-baik jangan akhlak yang buruk. Seperti ketika kita sedang diberikan nikmat, kita harus selalu bersyukur kepada Allah.
Menurut pendapat Quraish Shihab, titik tolak akhlak kepada Allah adalah pengakuan dan kesadaran bahwa tiada Tuhan melainkan Allah. Allah memiliki sifat-sifat terpuji, demikian Agung sifat itu, jangankan manusia, malaikatpun tidak akan mampu menjangkaunya.
Adapun akhlak kepada Allah ialah:
1. Ikhlas
Ikhlas berasal dari bahasa Arab yang artinya bersih, jernih, murni, tidak bercampur. Ikhlas ialah beramal semata-mata mengharapkan ridho Allah. Ikhlas juga artinya tanpa pamrih.
Aktivitas apapun jika diniatkan ikhlas karena Allah akan bernilai ibadah dan mendapatkan pahala. Oleh karena itu niat yang ikhlas harus diikuti dengan amal yang itqan atau sebaik–baiknya walaupun tanpa imbalan. Semua dilakukan karena mengharap ridha dari Allah semata. Lawan ikhlas adalah riya, yaitu melakukan sesuatu bukan karena Allah, tetapi karena ingin dipuji atau karena pamrih lainnya. Seorang yang riya adalah orang yang ingin memperlihatkan kepada orang lain kebaikan yang dilakukannya. Niatnya sudah bergeser bukan lagi mencari keridhaan Allah, tapi mengharapkan pujian orang lain. Rasulullah menamakan riya ini dengan syirik kecil, dalam sebuah hadits bahkan Beliau mengumpamakan syirik kecil ini akan menghapus amalan seseorang seperti api memakan kayu bakar.
Ada tiga unsur ikhlas, yaitu:
a) Niat yang ikhlas. Dalam Islam, faktor niat sangatlah penting. Apasaja yang dilakukan oleh seorang muslim haruslah berdasarkan niat mencari ridha Allah Swt, bukan karena berdasarkan motivasi lain.
b) Beramal dengan sebaik-baiknya. Niat ikhlas harus diikuti dengan amal yang baik, seorang muslim yang mengaku ikhlas malakukan sesuatu harus membuktikannya dengan melakukan perbuatan sebaik-baiknya.
c) Memanfaatkan hasil usaha dengan tepat, misalnya dalam menuntut ilmu.
2. Syukur
Syukurnya seorang hamba terdiri atas tiga unsur, yang apabila tidak lengkap unsur tersebut maka seseorang belum dikatakan bersyukur, yaitu: mengakui nikmat dalam batin, membicarakannya secara lahir, dan menjadikannya sebagai sarana taat kepada Allah. Jadi syukur itu berkaitan dengan hati, lisan, dan anggota badan. Hati untuk ma’rifah dan mahabbah, lisan untuk memuja dan menyebut nama Allah, dan anggota badan untuk menggunakan nikmat yang diterima sebagai sarana untuk menjalankan ketaatan kepada Allah SWT dan menahan diri dari maksiat kepada–Nya.
Allah SWT memerintahkan kepada kaum muslimin untuk bersyukur kepada–Nya, sebagaimana firman Allah yang artinya “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al – Baqarah : 152). Manusia diperintahkan bersyukur bukanlah untuk kepentingan Allah, tetapi untuk kepentingan manusia itu sendiri. Seperti firman Allah dalam surat Luqman ayat 12 yang artinya “…Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”.
3. Berdoa
Berdoa bisa dikatakan juga dengan memohon atau meminta kepada Allah, dengan mengadahkan kedua tangan ke atas dan mengucapkan apa yang ingin dimohonkan. Berdoa kepada Allah selalu mengharapkan yang baik, bahkan tidak hanya itu, setiap perkataan manusia juga merupakan doa. Maka dari itu, berhati-hatila dalam berucap karena setiap ucapan akan menjadi doa.
Jika kita sebagai makhluk-Nya berucap dengan kata-kata yang buruk, maka akan buruk pula yang kita dapatkan, namun sebaliknya, jika kita berucap yang baik-baik, akan baik pula yang kita dapatkan.
4. Rasa Malu
Rasa malu terhadap Allah ialah rasa ketidaknyamannya hati ketika kita sebagai hamba-Nya tidak menjalankan ataupun meninggalkan apa yang sudah menjadi kewajiban hamba-Nya. Kita akan merasa tidak nyaman disetiap perbuatan atau kegiatan yang kita lakukan. Namum, jika kita menjalankan semua kewajiban yang telah Allah beri, hati dan fikiran kita pasti akan nyaman dan tentram. Bahkan disetiap kegiatan yang kita lakukan akan terasa ringan dan tanpa terasa pasti akan terselesaikan walau itu berat.
5. Sabar
Sabar adalah kemampuan menunda kesenangan dan menjalani yang ada dengan penuh ketekunan. Jika hal yang menimpa diri kita berupa musibah kesusahan yang akhirnya akan menggoreskan kekecewaan dalam diri, maka sebagai seorang muslim, kita diwajibkan untuk bersabar.
عَنْصُهَيْبِالرُّوْمِيِّرضقَالَ: قَالَرَسُوْلُاللهِص: عَجَبًاِلاَمْرِاْلمُؤْمِنِ،اِنَّاَمْرَهُلَهُكُلَّهُخَيْرٌ،وَلَيْسَذلِكَِلاَحَدٍاِلاَّلِلْمُؤْمِنِ. اِنْاَصَابَتْهُسَرَّاءُشَكَرَفَكَانَخَيْرًالَهُ.وَاِنْاَصَابَتْهُضَرَّاءُصَبَرَ،فَكَانَخَيْرًالَهُ. مسلم
Dari Shuhaib Ar-Rumiy RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh mengagumkan urusannya orang mukmin itu, semua urusannya menjadi kebaikan untuknya, dan tidak didapati yang demikian itu kecuali pada orang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan dia bersyukur, maka yang demikian itu menjadi kebaikan baginya. Dan apabila dia ditimpa kesusahan ia bershabar, maka yang demikian itu pun menjadi kebaikan baginya”. [HR. Muslim]
Sabar bukan berarti hal yang pasif saja, sabar juga bersifat proaktif. Karena sabar terdiri dari tiga hal, sabar dalam menghadapi musibah, sabar dalam mengerjakan kebaikan, dan sabar dalam menahan diri dari mengerjakan perbuatan maksiat. Jangan pernah menangisi nasi yang telah menjadi bubur, namun berilah ia bumbu, kecap, kacang, dan kerupuk, agar bisa menjadi bubur yang lezat. Dan sungguh, kesabaran hanya akan menambahkan pahala kebaikan pada diri kita.
”Seorang hamba yang ditimpa musibah, lalu mengucapkan innalillahi wainna ilaihiraji’un, llahumma’jurni fi mushibati waahlif likhairanminha (sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nyalah kita dikembalikan. Ya Allah, berilah aku ganjaran dalam musibahku ini dan berilah ganti kepadaku dengan yang lebih baik darinya), niscaya Allah akan memberi ganjaran padanya dalam musibahnya dan akan menggantikan dengan yang lebih baik darinya.” (HR Muslim).
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Seorang muslim itu harus berahlak baik kepada Allah SWT. Karena kita sebagai manusia yang di ciptakan oleh Allah dan untuk menyembah kepada Allah, sesuai dengan firman Allah SWT yang artinya dan tidaklah Kami (Allah) ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.
Dari uraian-uraian diatas dapat dipahami bahwa akhlak terhadap Allah SWT, manusia seharusnya selalu mengabdikan diri hanya kepada-Nya semata dengan penuh keikhlasan dan bersyukur kepada-Nya, sehingga ibadah yang dilakukan ditujukan untuk memperoleh keridhaan-Nya.
Dalam melaksanakan kewajiban yang diperintahkan oleh Allah, terutama melaksanakan ibadah-ibadah pokok, seperti shalat, zakat, puasa, haji, haruslah menjaga kebersihan badan dan pakaian, lahir dan batin dengan penuh keikhlasan. Tentu yang tersebut bersumber kepada al-Qur'an yang harus dipelajari dan dipelihara kemurnianya dan pelestarianya oleh umat Islam.
Adapun akhlak kepada Allah itu antara lain:
a. Ikhlas
b. Syukur
c. Berdoa
d. Rasa Malu
e. Sabar
B. Saran
Kami selaku mahasiswa menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak kesalahan dan kekurangan dalam makalah ini dan masih jauh dari kata sempurna, maka dari itu kritik dan saran sangat kami butuhkan dalam penyempurnaan makalah ini. Dan kami berharap semoga makalah ini bermanfaat dan memberi tambahan ilmu pengetahuan bagi kawan-kawan dan kami khususnya.
Komentar
Posting Komentar